Indonesian Climate Change Crisis: Opportunities and Challenges

Kuliah umum terkait dengan krisis perubahan iklim dan kebakaran hutan telah diadakan di Ruang 5B Perpustakaan  Pusat Universitas Indonesia, Depok. Kuliah umum ini menghadirkan Dr. Erik Meijaard (Borneo Future), Dr. Sunaryo (RCCC Universtitas Indonesia), Dr. Ian Singleton (Sumatra Orangutan Conservation Program), Andhyta F. Utami (WRI) dan T. M. Zulfikar ( Yayasan Ekosistem Lestari) sebagai narasumber.

Dalam beberapa bulan terakhir ribuan titik kebakaran hutan menyala di sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya Pulau Sumatera dan Kalimantan, menyebabkan polusi karbon besar-besaran, kematian karena ISPA, menghancurkan habitat serta mendorong orangutan dan satwa langka lainnya semakin dekat pada kepunahan. Tekanan untuk menyelesaikan masalah tata kelola kehutanan dan menangani kebakaran hutan semakin meningkat bersamaan dengan persiapan Indonesia untuk mendiskusikan komitmen perubahan iklimnya dalam COP 21 UNFCCC di Paris bulan Desember ini. Kuliah umum ini membahas berbagai tantangan dan kesempatan yang dihadapi Indonesia untuk mengatasi masalah kebakaran hutan.

Tahun 2015 adalah musim kemarau terpanjang, menyebabkan kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kebakaran hebat juga terjadi di hutan dan lahan gambut Sumatra dan Kalimantan akibat adanya pembukaan lahan untuk perkebunan sawit. Dr. Erik Meijaard memaparkan, kekeringan akan berlanjut hingga tahun 2016. Banyak orang membakar untuk berbagai alasan, seperti spekulasi tanah, konflik, praktek-praktek pertanian, dan lain-lain. Kebakaran bukan bagian dari ekosistem alam tropis. Beliau juga menyinggung siapa yang menyebabkan kebakaran. Menurutnya, penggerak utama kebakaran 30%  terjadi dalam industri  kelapa sawit dan industri pulp dan kertas serta 70% di luar perkebunan besar dan ekspansi kelapa sawit (skala kecil ke menengah).

Lantas apa komitmen penurunan emisi dalam perubahan iklim dari Indonesia di COP 21 Paris? Dr. Sunaryo  menjelaskan bahwa INDC mengatur komitmen paska 2020 yaitu 29% per BAU 2030, dan 26% komitmen per BAU 2020.  Indonesia akan menurunkan emisi pada tahun 2030 sebesar  29%.

Kebakaran hutan memengaruhi keanakeragaman hayati yaitu terganggunya musim kawin dan berkurangnya kebutuhan pakan. Kawasan ekosistem Leuser merupakan salah satu yang terkena dampak ini. Dr. Ian Singleton menjelaskan bahwa serangga, reptil dan amfibi sangat sensitif terhadap panas namun mereka tidak sanggup menjauh dari titik kebakaran. selain itu, kebakaran hutan juga berdampak buruk terhadap tumbuhan di hutan. Asap kebakaran menghalangi cahaya matahari sehingga tumbuhan tidak mendapatkan sinar matahari yang cukup selama beberapa bulan dan fotosintesis tidak berjalan dengan baik. Hal tersebut menyebabkan produksi bunga dan buah menurun. Hasil pertanian pun jauh berkurang dan menyebabkan gagal panen.

Menurut Andhyta F. Utami, analis riset di WRI Indonesia, menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Indonesia yang mulai memuncak sejak awal bulan Juli 2015 sudah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan. Data peringatan titik api memperlihatkan skala kebakaran hutan dan lahan tahun ini mengikuti tren lonjakan titik api yang menyerupai kebakaran besar di tahun 2006.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, data menunjukkan lonjakan titik api terjadi lebih awal dibandingkan lonjakan tahun-tahun sebelumnya. Perkiraan emisi yang dihasilkan oleh kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 sejumlah 1.748 juta ton CO2eq sudah lebih tinggi dari emisi bahan bakar fosil yang dihasilkan oleh Jerman dan Belanda di tahun 2013. Sedangkan jika dibandingkan dengan angka emisi nasional di tahun 2015 oleh BAPPENAS yang diperkirakan mencapai 1.636 juta ton CO2eq, emisi kebakaran hutan dan lahan 2015 sudah mencapai 63,7%. Padahal dalam simulasi BAPPENAS, porsi emisi dari kebakaran gambut “hanya” 18%.  Hal ini menunjukkan kejadian kebakaran hutan dan lahan di tahun 2015 sudah mencapai skala yang sangat mengkhawatirkan dan jauh melampaui perkiraan pemerintah.