Road Transport Emission in Indonesia

Dalam rangka penutupan kerjasama penelitian antara Toyota Motor Corporation dan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia tentang “Development of Reduction Emission Scenarios’ Strategy and Health Consequences of Air Pollution in Indonesia”, pada hari selasa, 21 Maret 2017 telah diadakan seminar nasional dengan tema Road Transport Emission in Indonesia: Challenges and Reduction Scenarios. Seminar yang dilaksanakan di Aula Terapung Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia ini menghadirkan Drs. Dasrul Chaniago, MM., ME., MH (Direktur Pengendalian Pencemaran Udara KLHK), Ahmad Safrudin (Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal), dan Dr. Budi Haryanto (RCCC Universitas Indonesia).

Pencemaran udara merupakan salah satu masalah di Indonesia yang belum sepenuhnya teratasi, dimana masih terus terjadi penurunan kualitas udara yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Berdasarkan hasil kajian dari berbagai institusi dalam maupun luar negeri menyimpulkan bahwa sumber utama pencemar udara khususnya di kota besar berasal dari sektor transportasi. Banyaknya kendaraan ditambah dengan penggunaan bahan bakar yang kurang ramah lingkungan semakin memperparah pencemaran udara terutama di daerah perkotaan dan padat kendaraan. Seminar ini membahas berbagai tantangan dan scenario penurunan emisi dari sektor transportasi darat di Indonesia.

Dalam skala Asia, kondisi pencemaran udara di Indonesia masih tergolong lebih baik dibandingkan dengan negara Cina dan India. Namun, Ahmad Safrudin menjelaskan bahwa kadar emisi di berbagai wilayah di Indonesia masih berhimpit dengan standar baku mutu WHO. Di Jakarta, tren pencemaran udara akan terus meningkat hingga 2030 seiring dengan meningkatnya populasi kendaraan bermotor yang merupakan sumber emisi dominan. Jika tidak dikendalikan, maka pada tahun 2030 berbagai parameter pencemaran udara akan naik 3-4 kali lipat. Penyakit yang diakibatkan oleh polusi udara juga akan semakin meningkat. Report dari WHO tentang efek pencemaran udara menunjukkan bahwa dari tahun 2010 hingga 2050 jumlah kematian akibat pencemaran udara diprediksi akan meningkat 2 kali lipat. Dr. Budi Haryanto menambahkan, beberapa parameter pencemar yang menyebabkan gangguan kesehatan diantaranya PM10 dan PM2.5. Berdasarkan hasil penelitian, Setiap peningkatan PM10 sebesar 100 µg/m3 maka akan terjadi peningkatan kematian 5-10%. Setiap peningkatan PM2.5 sebesar 18.6 µg/m3, maka peningkatan kematiannya sekitar 26%.

Dari sisi penggunaan bahan bakar, Indonesia sudah cukup tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand yang telah mengimplementasikan penggunaan bahan bakar standar euro 4 yang lebih ramah lingkungan. Drs. Dasrul Chaniago menjelaskan bahwa saat ini, Indonesia masih menggunakan bahan bakar standar euro 2 untuk kendaraan roda empat dan euro 3 untuk sepeda motor. Namun demikian, sekitar seminggu yang lalu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI telah menandatangani peraturan mengenai pemberlakuan euro 4 di Indonesia yang akan dijalankan pada pertengahan tahun 2018.

Adanya peraturan ini perlu diiringi dengan ketersediaan bahan bakar yang sesuai, teknologi kendaraan bermotor yang sesuai, serta dukungan masyarakat agar pengendalian pencemaran udara dari sector transportasi dapat berjalan secara efektif. Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah dalam memfasilitasi lingkungan yang mendukung pengendalian pencemaran udara juga perlu ada. Drs Dasrul Chaniago memaparkan, banyaknya pengguna sepeda motor juga didorong oleh lingkungan di sekitarnya yang tidak mendukung. Tidak tersedianya trotoar membuat orang enggan dan tidak nyaman untuk berjalan kaki sehingga lebih memilih menggunakan sepeda motor untuk menempuh jarak 200 meter.

Lebih lanjut, Ahmad Safrudin menjelaskan beberapa strategi penurunan emisi berdasarkan Integrated Vehicular Emissions Reduction Strategy (IVERS) antara lain penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan, teknologi rendah emisi, rekayasa lalu lintas agar tidak macet dan tidak menempuh jalan yang berliku-liku sehingga lebih efektif, standar emisi, dan penegakan hukum.

Sebelum ditandatanganinya regulasi mengenai pemberlakuan euro 4, selama empat tahun terakhir, RCCC UI bekerja sama dengan Toyota Motor Corporation mencoba mengembangkan beberapa skenario penurunan emisi transportasi darat yaitu skenario implementasi euro 4 standar tahun 2017, 2020, dan 2023. Dr. Budi Haryanto menjelaskan bahwa emisi dari sektor road transportation akan terus meningkat hingga 2050 sekitar 45-75% di Indonesia. Jika euro 4 diimplementasikan tahun 2017, maka emisi PM2.5 akan menurun sejak tahun 2020 hingga sekitar tahun 2040 di berbagai wilayah di Indonesia dan sumbernya didominasi oleh sepeda motor. Adapun penurunan emisi jika menggunakan skenario tahun 2020 dan 2023 tidak begitu banyak. Jika dibandingkan antara skenario 2017, 2020, dan 2023, penurunan emisi menggunakan skenario 2020 dan 2023 tidak jauh berbeda. Penurunan emisi untuk skenario 2017 lebih tajam dibandingkan skenario tahun 2020 dan 2023. Dari ketiga skenario, semakin cepat implementasi euro 4 standar, maka semakin cepat penurunan emisi di sektor transportasi. Hal ini bisa men-support kebijakan KLHK yang baru menandatangani implementasi euro 4 untuk tahun 2018.

Untuk mengunduh presentasi para pembicara, silakan menuju tautan ini.