Amankah Kualitas Udara Jakarta?

Seminar Nasional: "Kualitas Udara Jakarta: Amankah Bagi Kita dan Para Atlet Asian Games?" yang diselenggarakan pada Rabu, 14 Februari  2018, Pukul 09.00 – 13.00 di Hotel Morrisey, Jl. Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.
Terdapat 6 pembicara, diantaranya adalah Prof. Puji Lestari (Institut Teknologi Bandung), Dr. Budi Haryanto (Universitas Indonesia), Agus Dwi Susanto (Persatuan Dokter Paru Indonesia), Bondan Andriyanu (Greenpeace Indonesia), Drs. Dasrul Chaniago, MM., ME., MH (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), & Bruce Buckheit (Mantan Direktur US EPA)
 
Kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya terindikasi berbahaya bagi kesehatan masyarakat selama beberapa tahun belakangan ini. Pemantauan kualitas udara yang dilakukan Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) dengan mengukur konsentrasi PM2.5 menunjukkan kualitas udara yang sangat buruk dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Kualitas udara yang tidak sehat, misalnya, terjadi di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, khususnya pada bulan Mei-Juli 2017, sebaliknya dari hasil pantauan yang sama menunjukkan kualitas udara baik selama 2017 hanya tercatat sebanyak 29 hari selama setahun.
  
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil dan berbahaya yang dihasilkan, antara lain, dari pembangkit listrik, transportasi, dan aktivitas industri. Kualitas udara dengan level tidak sehat (unhealthy) bagi manusia akan memberi ancaman kesehatan yang sangat serius bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, ibu hamil, dan kelompok lanjut usia (lansia). Angka rata-rata PM2.5 tahunan di Jakarta selatan tercatat 29,6 ug/m3 dan Jakarta Pusat tercatat 27,6 ug/m3. Angka tersebut jauh melebih standar yang dapat ditoleransi, seperti standar WHO yaitu 10 µg/m3 dan bahkan melebihi Baku Mutu Udara Ambien Nasional, yaitu 15 µg/Nm3. PM2.5 dapat terhirup dan mengendap di organ pernafasan. Jika terpapar dalam jangka panjang, PM2.5 dapat menyebabkan infeksi saluran pernafasan akut -terutama bagi anak-anak- hingga kanker paru-paru. Selain itu, PM2.5 dapat meningkatkan kadar racun dalam pembuluh darah yang dapat memacu stroke, penyakit kardiovaskular dan penyakit jantung lainnya, serta dapat membahayakan ibu hamil karena berpotensi untuk menyerang janin.   
 
Buruknya kondisi pencemaran udara Jakarta harus ditangani segera. Dibutuhkan langkah tegas Pemerintah melalui payung-payung regulasinya untuk melindungi kesehatan masyarakat, khususnya kelompok sensitif. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui peraturan-peraturan yang ada sudah selayaknya dibenahi untuk mengatur standarisasi yang lebih ketat pada emisi buang dari aktifitas transportasi dan sektor pembangkit listrik. Jakarta sebagai ibukota negara Republik Indonesia akan menjadi cerminan suksesnya langkah Pemerintah dalam menciptakan sebuat kota yang layak huni bagi masyarakat. Tetapi di sisi lain, Jakarta juga telah menjadi pusat berbagai macam aktifitas dan kegiatan ekonomi, juga urbanisasi. Meledaknya pengguna transportasi pribadi merupakan penyumbang utama dari buruknya kualitas udara ibukota. Berbagai pencemar debu dan gas kimia dari bahan bakar mesin kendaraan bermotor telah berdampak terhadap kejadian penyakit ISPA, Asma bronkitis, Gangguan fungsi paru, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Kanker Paru dan bahkan Penyakit gangguan jantung pada 58% warga Jakarta tahun 2010. Biaya pengobatan penyakit terkait pencemaran udara tersebut mencapai Rp.38,5 triliun (KLHK, 2011). Hal ini semakin diperparah dengan akan dikepungnya Jakarta oleh rencana pembangunan 12 PLTU-PLTU Batubara beskala besar yang akan mengeluarkan emisi SOx, NOx dan PM2.5 dalam jumlah yang sangat besar yang akan membahayakan kesehatan masyarakat Jakarta. 
 
Pertengahan tahun ini, Jakarta akan menjadi tuan rumah sebuah acara internasional besar Asian Games, dimana nama baik negara ini dipertaruhkan. Para atlet, yang berasal dari berbagai negara di Asia, tentu berharap dapat memberikan performa maksimalnya. Suatu hal yang akan menjadi sulit tercapai apabila mereka harus bertanding di wilayah dengan kualitas udara yang buruk. Olimpiade Beijing 2008 nyaris dibatalkan seandainya Beijing tidak berupaya habis-habisan membersihkan pencemaran udaranya, merupakan contoh nyata pengelolaan kualitas udara perkotaan yang berhasil. Untuk itu, tidak saja dibutuhkan langkah nyata pemerintah, disamping melalui sebuah regulasi yang ketat, tetapi juga merencanakan aksi nyata untuk mengembalikan langit biru Jakarta. 
 
Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia bersama dengan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia berinisiatif menyelenggarakan Seminar Nasional Kualitas Udara Jakarta: Amankah bagi kita dan Atlet Asian Games? Seminar nasional ini bertujuan untuk mendiskusikan status kualitas udara Jakarta terkini dan prediksinya ke depan, dampak kesehatan kepada kesehatan masyarakat, berbagai upaya pencegahan dan pengendalian pencemaran udara, dan teknologi pemantauan kualitas udara yang efektif. Seminar akan diselenggarakan dalam bentuk diskusi panel melibatkan nara sumber dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Persatuan Dokter Paru Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Greenpeace Indonesia, dan United States Environmental Protection Agency (US-EPA).
 
Untuk mengunduh presentasi para pembicara, silakan menuju tautan ini.